Simbah Diyem adalah seorang nenek tua sebatang kara yang berprofesi sebagai pedagang kerupuk puli... Sehari-hari simbah berjualan di Pasar Bandar Kediri. Seharian Simbah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki tanpa alas menuju pasar dari rumahnya di lereng Gunung Klotok Sukorame yang berjarak 14 km.
Kakinya bengkak... gondong di lehernya menunjukkan kemiskinan yang menerpa kesehariannya.... Usai berjualan, Sang Simbah selalu mampir Masjid Baiturahman yang terletak di Jalan Penanggungan tak jauh dari Pasar Bandar. Saat itu Masjid Baiturahman masih dipenuhi pepohonan yang rindang, di tambah beberapa pohon bambu di pojok depannya... Asrama IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) ada di samping masjid....
Setelah berwudhu’, simbah masuk masjid. Mengambil mukena dari keranjang kerupuknya ... dan melakukan solat Zuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, Simbah keluar masjid dan mengumpulkan dedaun yang bertaburan di halaman masjid.
Sehelai demi sehelai dikutipnya. Tidak satu helai pun dibiarkannya. Tentu saja agak lama simbah membersihkan masjid dengan cara itu, padahal matahari sedemikian menyengat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Para takmir masjid dan pelajar SMP Muhammadiyah yang sehari-hari berada di lingkungan masjid menjadi iba melihatnya.
Pada suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum simbah datang. Ketika simbah datang dan seperti biasa usai sholat, melakukan pekerjaan rutinnya..... namun dia terkejut karena tidak ada satu helai pun daun yang berserakan di halaman masjid. Dia kembali ke masjid dan menangis sambil bertanya kepada semua orang mengapa dedaunan itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang di dalam masjid menjawab, karena mereka kasihan melihatnya.
Seketika itu Simbah menjawab : "Jika kalian kasihan melihatku, berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya,"jawab simbah sembari menyeka air matanya. Singkat cerita, keesokan harinya simbah dibiarkan mengumpul dedaunan yang bertebaran di halaman masjid seperti biasa. Orang-orang tak mengerti.
Seorang pelajar Kelas II SMP Muhammadiyah bertanya, dan mendapat jawaban.. :
"Saya ini perempuan bodoh," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya mungkin tidak selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Nabi Muhammad s.a.w. Setiap kali saya mengambil sehelai daun itu, saya mengucapkan selawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Nabi datang menjemput saya. Biarlah semua daun itu menjadi saksi saya berselawat kepadaNya"....
Kami semua meneteskan air mata haru.....
Kini Simbah Diyem mungkin telah tiada.....
Selengkapnya ...
Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak grand final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak bernama Muhammad Umar Hanif. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Hanif lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.
Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan asesoris hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Hanif bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.
Namun, sesaat kemudian, Hanif meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa pada Allah. Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".
Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Hanif lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Hanif. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah."
Saat pembagian piala tiba. Hanif maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Allah agar kamu menang, bukan?". Hanif terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan dalam do’a ku" kata Hanif.
Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Allah untuk menolongmu mengalahkan saudaramu yang lain". "Aku, hanya bermohon pada Allah, supaya aku tak menangis, jika aku kalah." Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
Selengkapnya ...
Kisah Nyata ini saya dapatkan dari milis email kawan STAN/Prodip III Pajak '97, Kiranya bermanfa'at buat kita semua karena banyak Pelajaran dan Hikmah yang bisa kita petik darinya.Semoga Allah menjadikan kita Manusia yang tegar dalam menghadapi segala situasi dan kondisi yang ada,dan kepada Allah saja kita berserah diri.
masa kecil saya? banyak yang menyedihkan...mengundang air mata...keadaan membuat saya kecil sering berimajinasi "seandainya bapak ibuku bukan itu...seandainya masku juga bukan itu..."
saya anak ke-2, jarak saya dan kakak saya 2 tahun...kakak saya adalah anak yang dinanti-nantikan setelah 3tahun perkawinan dan 2 kali kehamilan selalu gugur, jadilah kakaku adalah anak yang disayang baik oleh ibu dan bapak maupun kakek nenek...sementara jarak saya dan adik saya (laki-laki) cuma 1.5th...namanya anak bungsu pasti disayang-sayang...jadi walo perempuan sendiri, saya merasa tidak disayang, sering diperlakukan tidak adil(menurut kaca mata saya)...
betul-betul masa-masa yang berat...saat keprihatinan, saat tak ada beras dan harus makan nasi aking, kakak dan adik ngga doyan, ketika dipaksa jadi sakit, cuma saya yang bertahan...akhirnya kakak dan adik bisa makan nasi, saya tetep makan nasi aking...alhamdulillah saya diberi otak encer...pelajaran sekolah cetek lah...tiap tahun dapet juara, tapi ga pernah dikasih selamat apalagi hadiah...giliran ga dapet juara...eh...dimarahin, diisin-isin...padahal kakak dan adik ga pernah juara (bahkan ada merahnya) ga pernah dimarahin...karena satu-satunya perempuan, tiap hari ada aja tugas dari mencuci pakaian, nyapu de el el...kalo telat nyapu dimarahin, kalo main kelamaan dimarahin...sementara yang laki-laki tetep aja boleh main sepuasnya...pokoknya ibuku galak bangets deh...dikit-dikit nyubit, dikit-dikit bentak...jadilah saya manusia berkepribadian ganda...karena disekolah disayang guru dan teman-teman...selalu ceria...giliran di rumah jadi tumpuan kesalahan dan kemarahan...tapi Allah Maha welas asih...didikan keras dari ortu pada saya akhirnya berimbas pada diri saya yang tahan banting...sementara sodara saya yang laki-laki akhirnya jadi manusia cengeng...
mengenang masa kecil, bukan sesuatu yang membahagiakan buat saya...boleh saya bercerita, mungkin nanti ada yang bisa membantu saya menyembuhkan luka ini...semoga bukan membuka aib...
saya tidak mampu mengingat masa batita saya, kenangan paling awal yang tersisa adalah ketika hampir tiap malam, saat tengah malam, ibu mencubiti saya, agar saya terbangun, dan memaksa saya untuk menjemput bapak yang lagi kongkow di pos ronda dengan para tetangga...hal ini berulang terjadi...entah mengapa ibu tidak memangunkan kakak saya yang laki-laki dan lebih besar dari saya, ibu lebih memilih memaksa saya agar bangun...dan bila saya ogah bangun, alamat cubitan membiru akan mendarat di paha saya ditambah dengan omelan panjang pendek...menyisakan rasa sakit dan tangis...dan jadilah saya kecil tengah malam itu melewati gang yang sepi dan gelap menuju pos ronda yang berjarak 100 meter dari rumah, sesampai di mulut gang gengnya bapak dah menyeru "man tuh anakmu wedok nyusul" dan bapak pun menghampiri saya serta menggendong saya pulang...tapi masalah tidak selesai sampai di sini...begitu sampai rumah, caci maki dan amarah ibu pun menyambut kami, kadang tidak cukup cuma caci maki seringkali berakhir dengan pertengkaran hebat, teriakan, makian, debat mulut dan juga beranterm fisik...dan saya menyaksikannya sambil terus berusaha memisahkan mereka dengan tangis dan tangan mungil saya...kadang tubuh saya terdorong tanpa sengaja...
kejadian ini pun selalu berulang dan berulang...pernah suatu malam, saat saya menjemput bapak, dan saya tiba di rumah, ibu mengunci pintu dan kami tidak bisa masuk, jadilah saya tertidur di luar, dipelukan bapak disebuah lincak bambu yang ada di depan rumah...pernah juga ketika sampai di depan rumah, sebuah buntelan pakaian dilemparkan ibu dari dalam, menyuruh bapak pergi...akhirnya malam itu pun saya tertidur di luar...saya heran...dengan kegaduhan itu, dua saudara laki-laki saya tidak terbangun... dan yang sekarang membuat saya gemas...kenapa ya bapak waktu itu tidak menahan diri untuk keluar malam, demi saya anak perempuannya dan demi istrinya agar tidak marah-marah...dan kenapa ibu saya tidak membiarkan saja bapak saya kongkow-kongkow...toh anak-anak juga dah pada tidur...bener-bener dua orang yang keras kepala...ups...
memasuki usia SD...ibu saya mulai bergaul dengan orang-orang ga jelas...ubyang-ubyung dengan istri-istri bermasalah...tiap hari mereka ngendon di rumah saya...ada bu end pengedar uang palsu, ada bu dal penipu berlian, ada bu siapa ya saya lupa, mafia cek kosong...dan masih banyak lagi..entah darimana ibu mengenal orang-orang ga bener itu...dan entah darimana asalnya rasa kebencian saya pada mereka itu tumbuh, mungkin ilham dari Allah...tapi saya bener-bener membenci aktivitas mereka padahal usia saya waktu itu belum genap 10th...alhasil setiap bertemu mereka di rumah saya hadiahi mereka dengan kesinisan dan cemberut...ibu pun tahu adat saya ini, hasilnya biasa lah makian dan cubitan...makanan pokok saya...yang biasanya berakhir dengan tangisan...yang baru akan berhenti setelah ashar saat bapak pulang...
pergaulan ibu itu akhirnya menjerumuskan ibu...ibu yang lugu dimanfaatkan oleh temen-temennya itu, ngambil motor ke dealer dengan KTP ibu, setelah motor datang, motornya dibawa kabur temen-temennya...akhrinya ibu harus berurusan dengan pihak berwajib dan harus meninggalkan kami dan adik baru kami yang baru berusia 10 bulan...seorang bayi yang bahkan belum bisa berjalan itu harus kehilangan kasih sayang seorang ibu dalam waktu lama...dan sayalah yang wajib mengasuhnya sebelum dan sepulang sekolah...sepanjang hari, tiap pulang sambil menggendong adik dengan gaya oshin saya berkewajiban mengangkat cucian dan melipatnya, mencuci piring, menyapu halaman serta menyuapi dan memandikan adik...saat bermain bersama teman-teman pun sambil menggendong adik...
alhamdulillah masalah demi masalah di rumah tidak mengganggu prestasi saya di sekolah, saya tetap kesayangan para guru dan teman-teman, dengan berbagai macam bakat, saya selalu menjadi tim inti olahraga dan seni di sekolah andalan porseni, saya bisa nyanyi, saya pinter ngarang, saya pandai baca puisi, saya jago lari, saya komandan baris berbaris putri yang kejuaraannya diadakan tiap tahun...prestasi akademik pun tidak pernah bergeser dari 3 besar...bahkan saat ebtanas NEM tertinggi berhasil saya raih...betul-betul itu anugrah dari Allah semata, mengingat saya tidak punya buku paket kecuali yang dipinjami sekolah, dan saya pun jarang belajar karena waktu saya tersita buat momong adik...selepas isya saya langsung tidur karena kelelahan...
lewat masa SMP, saya menjalaninya dengan kondisi kemiskinan yang menghimpit...membuat saya harus rela bekerja di sebuah perusahaan konveksi di depan rumah sepulan sekolah...oya rumah saya di pusat home industri batik, mencari pekerjaan bukan hal yang sulit bagi saya... dari hasil menjahit itu, saya mendapat upah 7ribu seminggu, SPP saya 5rb sebulan...tapi tiap bulan SPP saya selalu nunggak, bukan karena upah yang saya dapet saya gunakan buat foya-foya, tapi karena uangnya selalu dipinjam paksa sama ibu...dengan alasan buat beli beras de el el...ketika saya menagihnya buat bayar SPP, alih-alih ibu membayarnya, malah memaki saya panjang pendek...walo pun SPP selalu nunggakdan tak mampu beli buku paket, saya masih tetap menjadi kesayangan beberapa guru tetep banyak teman...karena alhamdulillah saya memiliki tulisan tangan yang bagus dan rapi, saya rajin nyatet terutama pelajaran-pelajaran eksak seperti matematika, fisika dan biologi...buku catetan saya enak dibaca...buku inilah yang selalu jadi rujukan temen-temen...pada antri pinjem...dengan buku catetan ini walo ga punya buku paket nilai ulangan saya tidak pernah kurang dari 9...celakanya ga semua guru seneng mendikte muridnya, beberapa lebih seneng teks book, nah yang begini saya dapet nilai 8 juga udah bagus...gimana bisa dapet nilai bagus, bukunya pun ga punya paling-paling membaca ngebut di pagi hari dengan meminjam buku teman...suasana di rumah masih tidak mendukung perkembangan jiwa saya...ibu saya masih sering memaki bapak di depan kami anak-anaknya...pun sering memaki saya di depan umum...padahal saya sudah menjelang remaja...sampai puncaknya, karena kemarahan yang sangat saat, saya membantahnya ketika dimarahi...sebuah helm dipukulkan dikepala saya berulang-ulang sampai helmnya pecah menyisakan sakit luar biasa di kepala...padahal saat itu ada teman-teman ibu...jadilah teman ibu itu yang berteriak-teriak panik sambil memegang tangan ibu...mungkin teman ibu takut saya meninggal saat itu...memasuki kelas dua SMP...ibu kembali melahirkan anak ke-5 laki-laki lagi...dan saya masih tetap satu-satunya anak perempuan...suatu sore saat selesai memandikan adik bayi saya, saya membuat kesalahan yang membuat ibu saya murka...dengan tanpa pikir panjang, baskom blirik dari besi bekas mandi adik itu sekuat tenaga ibu pukulkan ke punggung saya hingga meninggalkan bekas biru...ya Allah ternyata mozaik-mozaik itu pun masih rapi tertanam di otak dan ingatanku...
memasuki masa SMU...suasana rumah masih tidak berubah...makian dan kekasaran menghiasi setiap tumbuh kembang saya...tapi semua tetap tidak mengganggu prestasi saya dan pergaulan saya...saya masih tetap kesayangan guru dan teman-teman di sekolah...alhamdulillah teman-teman saya awet...pada sayang sama saya...saya bisa memilih pulang dianter sama siapa? teman-teman dengan senang hati akan mengantar saya pulang ke rumah...saat teman sebaya kanan kiri rumah mulai mengenal cinta...saya tidak tertarik buat pacaran...sekedar naksir mah pernah pasti...teman laki-laki saya juga buanyaaaaaaaakkkkk...bikin ngiri tetangga, bahkan pernah punya temen dari sekolah sebelah, china yang cakep tiap pulang sekolah pengennya mampir ke gubug saya...tapi saya sekali lagi tidak tertarik buat pacaran...bukan karena mengerti haramnya pacaran...entah lah...saya cuma tidak tertarik aja...
pergaulan saya makin luas ketika bakat nyanyi saya membuat saya sering jingkrak-jingkrak di panggung...menyalurkan kemarahan terpendam dengan teriak-teriak sepuasnya di studio ato dipanggung...ups...alhamdulillah temen-temen di studio musik bukan brandalan yang ga bener...mereka sama sekali tidak pernah menyentuh saya...komentarnya "ga berani ah...takut ditendang..." mereka bener-bener menjaga saya...dan saya pun tak sekali pun punya niat buat merusak diri saya sendiri...
orang yang mengenal saya pasti memberikan penilaian : saya orang yang ceria, cerdas, banyak ketawa, suka bergurau, ekspresif, supel dan pecicilan..." itu pribadi saya di luar rumah...di rumah saya bener-bener gadis rumahan yang males keluar rumah...hobinya mendekam di kamar sambil memeluk radio...radio adalah setengah dari jiwaku..sebuah acara di malam minggu dengan back sound lagu aubrey adalah acara favorit saya...sekali lagi saya membuktikan...kebencian ibu, caci maki ibu, dan semua perlakuan buruk ibu tidak mampu menghancurkan saya...ketika beberapa teman sebaya mulai satu persatu menikah karena MBA...Allah menganggkat saya ke sebuah tempat 'suci' di jurang mangu...
hidup di jurang mangu, adalah awal hidup yang menyelamatkan dunia akhirat saya...
hidup di rantau tanpa kiriman sepeser pun uang dari orang tua, saya bertahan hidup...beberapa tetangga di pondok jaya tempat saya kost memberi kepercayaan buat ngasih les ke anaknya...dengan 'gaji' 50rb sebulan itulah saya hidup...50rb...buat kos, buat makan, beli sabun, fotocopy, dan transport liqo saya seminggu sekali di jalan bangka...saya betul-betul menyaksikan Kuasa Allah...kalkulator manusia bener-bener tak berfungsi saat menghitung pendapatan saya yang bisa menutup semua kebutuhan saya...bukan tanpa air mata...kadang selama 3 hari saya cuma mengisi perut dengan air putih saja...murni air putih tak ada makanan lain selain itu...tapi saya tidak mengeluh...saya tidak lemah...dan alhamdulillah saya tidak sakit...sekalinya sakit pas tingkat 3, itu pun sakit cacar air...prestasi saya di jurang mangu tidak terlalu cemerlang, karena memang saingan saya adalah manusia-manusia cemerlang...ditambah lagi pecahnya konsentrasi saya buat nyari uang. Jadi selain hantu DO, saat kuliah saya juga dihantui rasa lapar dan kekurangan...dan teman satu kos pun tidak pernah tahu keadaan ini...karena saya memang selalu ceria...
saya melewati hari-hari saya di jurang mangu dengan penuh kesibukan...kuliah dari pagi sampai dhuhur...mengajar TPA selepas ashar...dan memberi les setiap habis maghrib sampai jam 9 malam...tidak ada sisa waktu buat sekedar belajar...pun saat mau ujian sekali pun...kalo pun saya bisa mengerjakan tesnya itu betul-betul pertolongan Allah semata...tapi tidak cukup hanya tidak mengirim uang, ibu saya pun memberi saya tugas tambahan untuk membantu biaya sekolah adik...tapi sekali lagi Alhamdulillah saya akhirnya lulus dan selamat dari predikat PMDK...karena IP saya 3.22...saya kembali membuktikan...masa lalu tidak mampu menghancurkan saya..
diangkat jadi CPNS adalah karunia saya selanjutnya...dan entahlah saya memilih penempatan yang jauh dari tempat tinggal ibu saya...
bisa diduga bagaimana perlakuan ibu saya kan? saat saya susah saja saya sudah dibebani ini itu...apalagi saat yakin saya punya gaji...waktu gaji saya 400rb sebulan...ibu meminta bagian setengahnya...200rb sebulan...sisanya buat bayar kos 75rb dan makan 100rb...tak ada sisa untuk sekedar berhias, mengganti gamis yang dah berumur 5th...apalagi ganti sepatu bermerk dan tas modis...maaf ga ada dana...
jadilah tahun pertama bekerja itu saya selalu memakai 3 buah gamis bawaan dari kampus...tidak lebih...dan saya belum pernah sekalipun mengecewakan ibu saya dalam hal uang...berapapun yang diminta akan saya beri walopun sebelum memberi pasti saya nangis, sebel, gemes...karena saya ga punya tabungan...dan walaupun peruntukan itu tidak jelas buat apa...bahkan IPK selalu ludes buat adik-adik sekolah..hari pun berlalu ibu saya masih selalu merongrong keuangan saya...dengan berbagai alasan....
ketika gaji naik saya mulai punya tabungan, ditambah beberapa kali sisa IPK akhirnya saya berhasil membeli sebidang tanah di pinggiran kota...sebidang tanah yang saya siapkan buat orangtua saya nanti...awal 2003 saya menikah...dengan seorang lelaki sholeh pilihan ustadah kepercayaan saya...lelaki yang sabar dan mau mengerti kondisi saya dipilihkan Allah untuk mendampingi saya melewati ujian demi ujian...setahun menikah saya dikaruniai seorang bidadari cantik...dan ibu saya pun tidak pernah sekali pun mengganggu saya dengan permintaan in itu...setahun tanpa diganggu orang tua saya berhasil memiliki sebuah rumah nyaman dan sebuah sepeda motor baru...
fyi orangtua saya tidak punya rumah sendiri, mereka menghuni tanah warisan seorang priyayi dengan sistem 'mager sari' jauh hari saya sudah memprediksi bahwa suatu saat keluarga saya pasti harus pergi dari rumah itu...
dan ketakutan saya itu pun akhirnya terjadi...ketika fayi berumur 10 bulan, anak-anak ahli waris pemilik tanah itu memaksa orangtua saya pergi dari rumah itu...tidak ada cara lain akhirnya saya pun pinjam ke bank dan berhasil membelikan sebuah rumah permanen di tengah-tengah kota solo...bahagiaaaa rasanya saat itu...orang tuaku tinggal di rumah sendiri, dari tembok pula bukan dari bilik seperti yang dulu...
tapi ternyata Allah betul-betul ingin membuat saya menjadi manusia baja...
ujian kembali datang...tanah milik saya, yang saya beli dengan hasil keringat saya yang sertifikatnya atas nama saya, dan sertifikatnya pun ada di tangan saya berhasil dijual ibu tanpa sepengetahuan saya...yang membelinya pun adalah tetangga...
tanah seharga 15 juta itu dijual cuma 14 juta 4 tahun setelah saya miliki...kecewa pasti ada, marah juga ada...tapi saya tidak sampai marah besar, apalagi ngomel-ngomel sama ibu...alasannya buat bayar utang...ternyata selama setahun tidak ngrusuhi saya itu, ibu berhutang sana sini...sayangnya gaya hidup ibu saya melebihi gaya hidup saya yang pegawai pajak...tidak ada penyesalan ato rasa bersalah sedikit pun di wajah dan sikap ibu ketika akhirnya saya mengetahui bahwa tanah itu sudah di jual dan uangnya tak bersisa...saat yang beli minta sertifikat asli pada saya...sekedar minta maaf pun tidak...wong nyesel aja engga koq...ketika ditanya jawabnya "seharusnya kamu bersyukur dah bisa bayarin hutangnya ibu" sangaaaaaaaat datar tanpa ekspresi...dan saya ikhlas menerimanya...masa iya saya mau nuntut ibu...suami saya cuma geleng-geleng aja...tapi tetep tanpa marah...cuma ga habis pikir aja...
setengah tahun berlalu dari peristiwa penjualan tanah itu... peristiwa besar kembali terdengar...bapak dan ibu mengunjungi saya ke tasik...tak ada firasat apa pun...sampai suatu malam bapak bilang "nduk ikhlasne yo...ibumu utange akeh...omahe arep tak dol...(nduk ikhlasin ya...ibumu utangnya banyak...rumah mau dijual)..." sambil memperlihatkan kuitansi penjualan rumah...tertera bulan april, ternyata bukan mau jual rumah tapi memang sudah dijual...ya Allah cuma 4 bulan dari penjualan tanah...dan cuma 1 tahun dari pembelian rumah itu...
kali ini saya marah...kali ini saya kecewa...bagaimana mereka tega menjualnya? sementara hutang saya ke bank buat beli rumah itu pun belum lagi lunas...masih menyisakan 3th lagi angsuran...besarnya angsuran pun menguras setengah penghasilan saya...bapak kembali menjelaskan...rumah itu terjual 60 juta...sisa uang tinggal 35 juta...bapak sudah nyari-nyari rumah, sudah ada yang cocok harganya 38 juta...dan yang semakin membuat nyesek....lagi-lagi saya tidak diajak urun rembuk waktu menjualnya...serasa ditikam dari belakang...dan bukan itu saja...bapak secara tegas minta tambahan 5jt..buat beli rumah di sebuah perumahan di pinggiran kota itu...sekali lagi walo marah, kecewa dan sedih, saya tetap menyanggupi uang 5jt itu...duh koq ya pas ya? baru juga menerima IPK...dan memang nasib saya dari pertama kerja belum pernah merasakan nikmatnya IPK...
lebaran 2007...akhirnya saya melunasi pembelian perumahan pilihan ibu...saya berharap ini adalah kali terakhir mereka mempermainkan saya...
tapi ternyata dugaan saya keliru...bulan april 2008 ibu dan bapak datang kembali ke tasik...secara tersirat ibu membutuhkan uang 5 juta...entah untuk apa...dan kali ini saya memasang kepala batu...tak ada lagi uang tanpa tujuan jelas...akhrinya mereka pulang dengan kecewa...
tapi ternyata tak puas juga...seminggu setelah di rumah, ibu kembali mengulang permintaannya...dan kembali ku tolak...terjadilah pertengkaran sengit di telepon...kata-kata durhaka tak lagi menakutkan ku...dan akhirnya ibu mengancam akan pergi dari rumah dan akan tinggal di panti jompo...saya bilang "silakan...terserah ibu saja..." dengan nada yang datar tanpa ekspresi...entah lah kekuatan dari mana yang membuat saya bersikukuh untuk tidak lagi memenuhi setiap permintaan ibu...
beberapa hari kemudian bapak menelpon dengan suara bergetar menahan tangis, mengabarkan bahwa ibu sakit parah...kencing darah...dan meminta uang buat periksa, ketika saya tanya "berapa yang diperlukan?'..."tiga juta" kata bapak...sekali lagi saya menangis karena merasa ini hanyalah akal-akalan mereka...dan saya pun menyanggupi...saya punya rencana lain...menjelang jumatan saya menuju ATM...saya pencet angka-angka buat mengirim sejumlah dana...bukan 3 jt...tapi 350rb...dengan perhitungan...50rb buat dokter, 250rb buat nebus obat dan 50 rb buat transport...kulihat sisa saldo...tinggal 150rb...semoga itu bener-bener rejeki saya...bulan mei 2008...sebulan setelah pertengkaran di telepon...akhirnya saya mendapat kabar dari kakak sepupu yang tinggal di desa...di rumah warisan simbah yang ibu pun punya jatah tanah warisan di sana...
"dek...lek yah mau pindah ke desa ya...sudah beli batu bata tuh..." saya tidak kaget...saya iyahin aja, meyakinkan kakak sepupu kalo saya memang tahu rencana itu...
sudah saya duga...pasti rumah di perumahan itu dijual juga, tinggal nyari tahu siapa yang beli, berapa dibelinya dan uangnya sisa berapa?
tak berapa lama bapak menelpon..."nduk ibumu pengen hidup di desa, mau bangun rumah di desa" pemberitahuan itu tidak saya anggap, saya malah mengajukan pertanyaan tanpa tedeng aling-aling
"laku berapa rumahnya, Pak...dibeli sama siapa, masih punya uang berapa sekarang?" dan bapak saya pun tak bisa mengelak lagi... "kalo kamu pengen ibumu tidak punya hutang, tolong kirimin 3 juta sebulan...500rb cukup buat apa buat ibumu?' kata bapak bermaksud ngeles...(maaf bukan bermaksud riya'...selain membayar angsuran BRI yang kreditnya tak saya makan serupiah pun itu...saya pun rutin mengirim 500rb sebulan buat ibu...) "oh...boleh pak...gini saja, mulai bulan depan saya kirim 5 juta sebulan buat ibu gimana?...siap-siap saja pak...mungkin enam bulan kemudian saya akan ditangkap polisi karena korupsi...tolong saya nitip fayi dan najwa...tolong dididik yang pinter fayi pengen jadi dokter nantinya...tolong disekolahin ya selama saya dipenjara...demi memenuhi keinginan bapak dan ibu demi bakti saya buat bapak dan ibu saya rela koq dipenjara..." tantangku dingiinn...saya sampai merinding mendengar suara saya sendiri... "oh..jadi kamu ga mau lagi nurut sama bapak? ga mau lagi nolong bapak? ya udah kamu ga usah balik-balik lagi ke solo...ga usah..." suara bapak saya bergetar hebat... "boleh, pak...gapapa ga pulang ke solo, jangan harap bisa ketemu sama fayi dan najwa lagi..." saya sendiri ga ngerti, entah keberanian darimana yang mendorong saya buat melawan bapak sama ibu saat itu... dan terdengar raungan keras tangis bapak di seberang telepon...segera saja telpon itu saya matikan...
juni 2008...kemarahan bapak cair...bapak akhirnya mengaku...rumah di perumahan itu laku 42 juta...tinggal 28 juta lagi...tapi yang 13 juta dicicil oleh pembelinya yang masih tetangga... yang 15juta rencananya mau dipake membangun rumah di desa... saya mengingatkan pada keduanya..."siap tinggal di desa? hidup jauh dari kota...jauh dari anak cucu...?" mereka bilang siap...
waktu bangun rumah itu pun berkali-kali saya ingatkan "jangan nyesel, jangan ngeluh...saya ga mau denger keluhan bapak dan ibu kalo akhirnya nanti bapak dan ibu ga betah tinggal di desa..." akhirnya resmi sudah orang tua pindah ke desa, meninggalkan rumah yang cuma berhasil dimiliki 8 bulan saja...bulan itu juga adik bungsu saya yang baru lulus STM, saya paksa ikut saya, setelah kakaknya setahun sebelumnya juga saya paksa ikut saya, dan sudah bekerja sekarang...adik bungsu saya, saya kuliahin di tasik saja...saya ga mau lagi dibohongi sama orangtua...dengan alasan biaya sekolah, ibu sering kali membohongi saya...biar saya ga suudzon dan demi menyelamatkan akhirat mereka...mendingan mereka ikut saya saja...
jujur saja...orang tua saya tidak pernah menasehati anak-anaknya...tidak pernah ada larangan, mau bandel silakan, mau bejat silakan...tapi begitu kami tidak berkenan langsung saja dimaki...tanpa dinasehati terlebih dahulu...kalaupun sampai akhirnya saya bisa menjaga kesucian saya sampai saat yang halal tiba...demi Allah itu bukan dari buah ikhtiar orangtua...itu bener-bener murni penjagaan dari Allah semata...
pengetahuan agama? sholat saja mereka tidak pernah...bisa di duga generasi macam apa yang akhirnya dicetak sama orang tua saya...kakak saya, laki-laki paling besar...cengeng...mlempem...tidak jujur dalam bekerja sampai akhirnya dikeluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja...
adik saya pas...pribadinya rapuh, gampang terbawa pergaulan...menurut istrinya sekarang sering mabuk, karena atasannya sering mengajaknya menemani mabuk...ini masih jadi PR buat saya...
adik saya yang kakak bungsu yang setahun lalu ikut saya akhirnya mengaku, selama bersama orangtua karena tidak kuat menerima keadaan di rumah akhirnya terjerumus narkoba dan pergaulan bebas... alhamdulillah setahun ikut saya belum pernah sekalipun tergoda untuk mencobanya lagi...dan mulai mau sholat...tinggal tobatan nashuha...yang bungsu alhamdulillah, merokok pun tidak...
nasehat saya bagi para bujangan: carilah istri yang tidak hanya membuatmu bahagia semata yang kamu mencintainya dan yang bisa memuaskan nafsumu...tapi pilihlah wanita yang nanti akan membuat anak-anakmu bahagia memiliki ibu sepertinya...yang akan membuat anak-anakmu tidak sengsara karenanya...
orangtua saya sekarang mulai kelihatan malu...apalagi melihat kehidupan rumah tangga anaknya yang ayem tentrem...ditambah cucu perempuan yang lucu dan cantik...(yang pengen lihat kecantikan anakku boleh ngirim nip...)
sebulan lalu mereka kembali berkunjung ke tasik selama sebulan penuh mereka melihat kehidupan kami sekeluarga...tak lagi ada keangkuhan...saya pun selalu menjaga silaturahmi dengan mereka semurka apa pun mereka pada saya...sedalam apa pun luka yang pernah mereka torehkan dalam hati saya..Allah telah menumbuhkan rasa sayang dan cinta yang dalam pada bapak dan ibu..mengalahkan kebencian dan dendam yang muncul sesekali...
suatu kali, ibu menceritakan tentang menantunya (istri kakak dan istri adik) yang memperlakukan anak-anak mereka dengan kasar...entahlah saat itu saya langsung ngomong..."lha kan ibu dulu juga kejem sama saya, nih buktinya juga belum ilang..." kata saya sambil menunjukkan kulit yang belang di pinggang, bekas kesiram air panas..."ibu juga pernah memukul saya pake helm sampe pecah, ibu juga sering mencubit saya..." dan saya terus mengoceh tentang luka-luka yang belum tersembuhkan...saya hanya ingin ibu tahu...begitu banyak luka yang telah ibu torehkan di hati saya, dan saya tidak bisa melupakan peristiwanya...dan ibu tidak sekali pun pernah minta maaf atas semua kesalahannya pada saya...saat itu ibu saya terdiam...
ibu juga menyaksikan bagaimana kelemahlembutan kami (saya dan suami) dalam memperlakukan anak-anak...pernah suatu malam najwa rewel dan susah ditenangkan...hingga saya melakukan sesuatu yang membuat najwa menjerit histeris...bapak lari dan mendobrak pintu kamar...dikiranya saya sedang menyiksa najwa...padahal saya sekedar tidur menghadap tembok dan memunggungi najwa...itu adalah kemarahan tingkat tinggi saya,yaitu dengan memunggungi bila kondisi tidur ato bersedekap, memasang wajah tak acuh dan memalingkan wajah saat kondisi duduk/berdiri...dan najwa tau posisi dan ekspresi itu menunjukan kalo umminya marah besar hingga membuatnya nangis...tak ada cubitan, tak ada makian...bapak saya pun akhirnya menutup kembali pintu kamar dengan wajah gimanaaaa gitu...sedetik kemudian najwa pun langsung cep klakep ketika saya memeluknya kembali...
dan ketika akhirnya menjelang idhul adha setelah sebulan di tasik ibu minta pulang, saya belikan tiket kereta, saya sangoni...dan saya belikan oleh-oleh seperti biasa...
tapi ada yang luar biasa...saat ibu berpamitan, dan saat saya mencium tangannya...ibu menangis, ibu merangkul saya, ibu minta maaf atas semua yang telah dilakukan pada saya selama ini ibu memohon agar saya memaafkannya begitu juga dengan bapak...satu hal yang selama ini belum pernah diucapkan oleh bapak...kecuali sekedar ritual saat lebaran...itu pun terasa hambar dihati...
saat itu ibu bener-bener menangis...saya pun luluh...tak ada dendam buat ibu...tak ada marah buat bapak...saya selalu mendoakan agar mereka bahagia di usia senjanya...segala yang telah saya lakukan pun tujuannya semata agar mereka mencicipi kebahagiaan yang juga saya rasakan...
semoga hidayah Allah segera diturunkan ke dalam hati mereka...
Ya Allah ampunilah mereka, dan sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku diwaktu kecil (bayi)..."
sekiranya bermanfaat...silakan dibagi...saya hanya ingin meringankan beban di dada...agar tak selamanya jadi dendam...tak ada yang saya tambah-tambahin kisah ini dari kenyataan yang ada...kalo ada pengurangan itu karena saya tak tega untuk menulisnya...
Selengkapnya ...

inilah kisah kepahlawanan sang Pelempar Sepatu Muntahar al Zaidi (wartawan Irak yang melemparkan sepatu kepada Presiden AS George W.Bush) dari negeri 1001 malam
Mengapa Saya Melemparkan Sepatu Kepada Bush?
Sekarang saya bebas. Tapi negara saya masih menjadi tawanan perang. Telah ada banyak pembicaraan mengenai aksi yang saya lakukan, dan tentang pahlawan dan kepahlawanan, dan simbol dan tindakan simbolik. Tapi, sederhana saja, jawaban saya: apa yang memaksa saya untuk bertindak seperti itu adalah ketidakadilan yang menimpa rakyat saya, dan bagaimana para penjajah hanya ingin mempermalukan tanah air saya dengan menginjak-injaknya.
Selama beberapa tahun terakhir, lebih dari satu juta orang telah mati oleh peluru penjajah dan Irak sekarang dipenuhi lebih dari lima juta anak-anak yatim, jutaan janda dan ratusan ribu orang cacat. Banyak jutaan orang yang kehilangan tempat tinggal di dalam dan di luar negeri.
Kami pernah menjadi suatu bangsa di mana orang Turki dan Kurdi dan Asiria dan Sabean dan Yazid berbagi roti setiap harinya. Terlepas dari kenyataan bahwa kami berbagi rasa lapar di bawah sanksi selama lebih dari satu dekade. Kesabaran dan solidaritas kami tidak membuat kami lupa penindasan. Tapi penjajahan mencerai-beraikan kami, saudara dari saudara, tetangga dari tetangga. Mengirim rumah kita ke tenda pemakaman.
Saya bukan pahlawan. Tapi saya punya sudut pandang. Saya punya sikap. Memalukan sekali melihat negara saya begitu terhina, Baghdad dibakar, dan rakyat kami dibunuh. Ribuan peristiwa tragis berkelebat di kepala saya, mendorong saya untuk melakukan konfrontasi. Skandal Abu Ghraib. Pembantaian Fallujah, Najaf, Haditha, Sadr, Basra, Diyala, Mosul, Tal Afar, dan setiap jengkal tanah kami yang terluka. Saya berjalan di atas tanah yang terbakar dan melihat dengan mata kepala sendiri penderitaan para korban, mendengar dengan telinga saya sendiri jeritan para anak yatim dan yang berduka. Dan perasaan malu menghantui saya dengan buruk karena saya tak berdaya.
Selalu setelah saya menyelesaikan tugas profesional dalam melaporkan tragedi sehari-hari, sementara saya menghanyutkan sisa-sisa puing-puing reruntuhan rumah Irak, atau darah yang menodai pakaian, saya selalu menggeretakkan gigi dan membuat janji untuk korban kami, janji balas dendam.
Kesempatan itu datang, dan saya menerimanya.
Saya mengambilnya dari kesetiaan kepada setiap tetes darah orang tidak bersalah yang telah tertumpah melalui pekerjaan saya, setiap jeritan ibu yang berduka, setiap erangan anak yatim piatu, kesedihan dari korban pemerkosaan, atau tetesan air mata anak yatim.
Saya berkata kepada orang-orang yang mencela saya: apakah Anda tahu berapa banyak rumah yang rusak? Berapa kali sepatu-sepatu mereka telah menginjak darah korban yang tidak bersalah? Mungkin sepatu adalah respons yang tepat ketika semua nilai itu dilanggar.
Ketika saya melemparkan sepatu dalam terhadap George Bush, saya ingin menyampaikan penolakan terhadap kebohongannya, dengan penjajahan terhadap negara saya, penjarahan kekayaan negara saya, penghancur infrastrukturnya, dan pengusiran para anak laki-laki kami yang menjadi tak tentu arah.
Jika saya menyelewengkan tugas jurnalisme, saya mohon maaf. Semua yang saya lakukan hanya mengekspresikan dengan hati nurani dari perasaan seorang warga negara yang melihat tanah airnya dinodai setiap hari. Profesionalisme ditangisi di bawah naungan penjajahan yang tidak boleh memiliki suara lebih keras daripada suara patriotisme. Dan jika patriotisme perlu untuk berbicara, maka profesionalisme harus bersekutu dengan itu.
Saya tidak melakukannya supaya nama saya masuk sejarah atau untuk keuntungan materi. Yang saya inginkan adalah untuk membela negara saya
sumber : guardian & Eramuslim
Selengkapnya ...
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya..."
demikian dia selalu memaknai hidupnya.Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi.
Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas.Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk akan, dan modal membeli kacang, yang akan diaolah kembali menjadi tempe Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..." Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih.
Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya.Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya.
Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar...merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??"
Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe..."
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe..." "Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah!" pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?" "Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi.
Jadi,saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"
Pembaca, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna.Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa.Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah SWT takdirkan.
"…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui"(QS. Al Baqarah 216)
Selengkapnya ...
Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedan membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.
Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini.. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan.
Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson."
Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu. Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi
seandainya pria itu tak menolongnya. Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia
berbuat hal sebaliknya. Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, "Dan ingatlah kepada saya." Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja. Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.
Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan . Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $ 100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali
wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu..'" Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!"
Ada pepatah lama yang berkata, "Berilah maka engkau diberi." Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Teman baik itu seperti bintang-bintang di langit. Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun anda tahu mereka selalu ada.
Yuks, kita bagikan kebaikan hari ini pada 1 orang saja, semoga rantai ini tidak akan pernah terputus. percayalah, energi positif itu sifatnya menular.
Selengkapnya ...